Masalah Ketenagakerjaan

Latar Belakang

Masalah Ketenagakerjaan sangatlah luas dan kompleks. Permasalahan ini mengandung dimensi ekonomis, dimensi sosial kesejahteraan, dan dimensi sosial politik. Masalah ketenagakerjaan antara lain berkaitan dengan makin sempitnya peluang kerja, angka pengangguran yang semakin tinggi, rendahnya kemampuan dan keahlian para pekerja, semakin besarnya jurang antara pemilik modal (pengusaha), dan para pekerja, serta tingginya biaya hidup yang semakin tidak tertutupi oleh gaji yang diterima.

Berbagai persoalan tersebut berpangkal, paling tidak pada du hal:

  1. Menyangkut kebijaksanaan negara dalam bidang politik ekonomi. Kebijakan tersebut menyangkut masalah pemenuhan kebutuhan pokok serta upaya peningkatan kesejahteraan hidup rakyat.

  2. Menyangkut hubungan pengusaha dengan pekerja. Hal ini tekait dengan kontrak kerja antara pengusaha dengan pekerja.

Masalah dan Pembahasannya

Dalam masalah ketenagakerjaan yang menyangkut kebijaksanaan negara dalam bidang politik ekonomi,terkait dengan masalah pemenuhan kebutuhan pokok serta upaya peningkatan kesejahteraan hidup rakyat. Masalah muncul manakala pemarintah berlepas diri dari tanggung jawabnya memenuhu kebutuhan pokok rakyat tersebut. Banyak kebijakan pemerintah justru sering menambah beban hidup bagi rakyat seperti kenaikan BBM, kenaikan TDL,dll. Kapitalisme yang diterapkan di negeri ini memandang bahwa pemerintah tidak wajib memberikan pelayanan kepada rakyat agar semua rakyat tercukupi kebutuhan hidupnya. Bahkan subsidi bagi pelayanan sosial dianggap tidak sehat bagi rakyat karena rakyat akan menjadi manja dan kurang mandiri.

Sedangkan dalam masalah ketenaga kerjaan yang menyangkut pengusaha dengan pekerja,tekait dengan kontrak kerja antara pengusaha dengan pekerja. Dalam suatu negara berbasis kapitalisme, sudah lazim bahwa setiap peraturn dan perundang-undangan selalu dipengaruhi oleh para pemilik modal. Mereka dapat bekerja sama dengan penusaha untuk mengeluarkan peraturan yang dapat menguntungkan mereka, karena di tangan mereka ada uang yang bisa menghipnotis para pengambil kebijakan. Akibatnya, kebijakan yang dikeluarkan lebih berpihak kepada pengusaha ketimbang kepada rakyat kebanyakan.

Dari segi dimensi ekonomis, sosial dan politis masalah ketenagakerjaan juga mencakup masalah pengupahan dan jaminan sosial, penetapan upah minimum, syarat-syarat kerja, perlindungan tenaga kerja, penyelesaian perselisihan, kebebasan berserikat industrial, serta hubungan dan kerja sama internasional. Namun, kompleksitas masalah ketenagakerjaan tersebut kurang disadari dan kurang mendapat perhatian pimpinan pemerintah, sejak orde baru hingga pemerintah sekarang ini. Masalah ketenagakerjaan sering dipandang hanya sebagi hasil ikutan dari pertumbuhan ekonomi, sehingga yang ditekan dan dikejar hanya laju pertumbuhan. Pada suatu masa dikesankan bahwa gerakan serikat pekerja dapat menggangu investasi, sehinnga yang ditekankan adalah bagaimana ”menjinakkan” serikat pekerja. Dalam dua periode terakhir ini terkesan bahwa masalah ketenaga kerjaan hanya mencakup hak-hak pekerja.

Dari masalah tenaga kerja yang demikian luas, bangsa Indonesia sekarang ini sedang menghadapi beberapa masalah ketenagakerjaan mendesak yang memerlukan perhatian khusus kabinet yang akan datang, yaitu:

  • Masalah penganggur dan setengah penganggur

  • Masalah pengiriman tenaga kerja ke luar negeri

  • Masalah pelatihan kerja

  • Masalah pembinaan hubungan industrial

  • Masalah perundang-undangan ketenagakerjaan

Berikut adalah data ketenagakerjaan Indonesia tahun 2002;

Struktur Angkatan Kerja Pekerja dan Pengangguran Terbuka

Menurut Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan Tahun 2002

No.

Tingkat Pendidikan

Struktur Angkatan Kerja

Struktur Pekerja

Struktur Pengangguran Terbuka

(juta)

(%)

(juta)

(%)

(juta)

(%)

1.

SD dan SD ke bawah

59,05

58,6

55,84

60,9

3,22

35,3

2.

SMTP

17,49

17,4

15,34

16,7

2,15

23,5

3.

SMU

12,21

12,1

10,07

11,0

2,14

23,4

4.

SMK

7,1

7,1

6,02

6,6

1,11

12,2

5.

Diploma/ Akademi

2,21

2,2

1,96

2,1

0,25

2,7

6

Universitas

2,69

2,7

2,42

2,6

0,26

2,2

Jumlah

100,77

100,0

91,65

100,0

9,13

100,0

Data ini menunjukkan secara jelas bahwa hanya ada sebesar 2,6% angkatan kerja kita yang lulus dari perguruan tinggi dan ada sejumlah 75% yang hanya berpendidikan SLTP kebawah. Bagi kalangan investor luar yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia, sajian data ini akan menghadirkan suatu pengertian bahwa jenis industri yang potensial dikembangkan di Indonesia adalah jenis industri manufaktur padat karya (garmen, tekstil, sepatu, elektronik). Sebab dalam situasi pasokan tenaga kerja yang melimpah (over supply), pendidikan yang minim, dan upah murah, hanya jenis industri manufaktur ringan saja yang cocok dibisniskan. Sekalipun para investor ini tetap harus mengeluarkan biaya pelatihan kerja, tetapi biayanya tidak sebesar jenis industri padat modal.

Masalah Penganggur dan Setengan Penganggur

Masalah penganggur berbeda dengan masalah setengah penganggur. Jumlah penganggur terbuka dalam tahun 2003 memang tercatat kecil, yaitu 9,5 juta orang atau 6,57 % dari jumlah angkatan kerja. Sebagian besar mereka (6,2 juta orang atau lebih 65 %) adalah penganggur tenaga terdidik lulusan SLTP ke atas. Mereka mula-mula mengharapkan bekerja menjadi pegawai di sektor formal. Namun daya serap sektor formal sangat terbatas, sehingga mereka pada umumnya terpaksa menganggur antara 2-3 tahun sebelum memperoleh pekerjaan di sektor formal atau terpaksa mengambil pekerjaan di sektor informal.
Setengah penganggur atau mereka yang bekerja kurang dari 35 jam seminggu, cukup besar. Dalam tahun 2003, setengah penganggur berjumlah 30,9 juta orang atau 30,8% dari angkatan kerja. Hampir seluruh mereka berada di sektor pertanian, pekerja mandiri dan di sektor informal. Sebagian besar mereka adalah tenaga tak terdidik atau berpendidikan maksimum SLTP. Dari semula mereka pada umumnya menyadari sangat sulit diterima bekerja di sektor formal dan segera memutuskan menerima pekerjaan apa adanya di sektor informal. Masalah utama yang mereka hadapi adalah keterbatasan pemilikan aset seperti tanah di sektor pertanian dan keterbatasan modal untuk pekerja mandiri dan sektor informal. Dan sebab itu produktivitas dan penghasilan mereka pada umumnya rendah.

Simpulan dan Saran

Hingga sekarang masih terkesan bahwa baik kabinet secara keseluruhan maupun pimpinan depnakertrans, belum benar-benar menyadari dan memahami masalah ketenagakerjaan yang dihadapi, dan beulum memberikan indikasi jalan keluar yang akan ditempuh. Oleh sebab itu, para pemimpin mengambil kebijakan perlu betul-betul memahami permasalahan ketenagakerjaan yang dihadapi. Demikian juga pemimpin di pusat perlu mampu memberdayakan para pemerintah otonomi daerah dalam menaggulangi masalah ketenagakerjaan di daerahnya.

Sektor formal hanya mampu menyerap sekitar 30% angkatan kerja. Sekitar 70% angkatan kerja tetap bekerja di sektor pertanian dan sektor informal lainnya. Keberhasilan Pemerintah sekarang ini menekan laju inflasi dan tingkat bunga patut dihargai. Namun, itu saja tidak cukup mengatasi pengangguran. Manfaatnya baru dinikmati sekelompok kecil pengusaha besar dan menengah. Pengusaha kecil dan pekerja keluarga atau pekerja mandiri di sektor informal belum menikmatinya secara signifikan. Oleh sebab itu, untuk 5 tahun masa Kabinet yang akan datang, kebijakan penanggulangan pengangguran harus diarahkan pada : pertama, meningkatkan daya serap sektor formal dengan mendorong dunia usaha yang bersifat padat karya seperti agrobisnis, industri kecil, industri tekstil dan sepatu. Pada saat yang sama, akses pengusaha kecil dan pekerja mandiri memperoleh

kredit serta kompetensi SDM untuk itu harusditingkatkan.

Daftar Pustaka

Dumairy, Drs.M.A. 1996. Perekonomian Indonesia. Jakarta:Erlangga.

Menyoal Tanggung Jawab Pemerintah Dalam Masalah Perburuhan. http://corpusalienum.multiply.com.(accessed,18 Oktober)

Silaban, Rekson.S.E. 2003. Masalah Aktual Ketenagakerjaan Dan Pembangunan Hukum Di Indonesia. www.lfip.org. (accessed,18 Oktober)

Simanjuntak, Prof. Dr. Payaman J, APU. Kompleksitas Masalah Ketenagakerjaan. www.pukmusashi.blogspot.com. (accessed,18 Oktober)

About these ads

~ oleh vinayunita pada Oktober 30, 2008.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: